iklan

[Indonesia]   [Index]   [Cabling]   [Tracking]   [Pole Instalation]   [Miscellaneous]   [Download]   [Contact]   [Keys Section]

<p align="center"><a target="_blank" href="http://komputer.tokokartini.com"> <img src="hc480x60.gif" width="728" height="90"> </a></p>
:: Index > Indonesia > Antena Satelit buatan sendiri  ::
[26 October 2014 ] INFO *** Dream TV Active Key (real time update)

Antena Satelit buatan sendiri

by Frank Altenwerth

Tele Satellite Magazine

 

Selain pertimbangan umum untuk proyek ini, saya juga bermaksud untuk membuat peningkatan terhadap konstruksi dasar yang sudah ada. Karena tidak mungkin bagi saya untuk mendirikan piringan besar di luar dan karena instalasi di atas atap juga menjadi pertanyaan karena ukuran antena tersebut yang besar, pilihan yang tertinggal hanyalah loteng. Cukup beruntung, terdapat sebuah jendela berukuran 1,2 X 1,2m yang mengarah ke satelit yang diinginkan.

Masalah selanjutnya: instalasi dan membawa hasil konstruksi ke atas loteng. Mempertimbangkan diameter akhir adalah 1600 mm, pintu tangga menuju loteng terlalu sempit, sehingga diperlukan perakitan di loteng. Selanjutnya, saya tidak begitu gembira harus membuka rakitan yang sudah jadi tersebut jika suatu saat harus pindah ke lokasi lain. Maka kemungkinan membuka rakitan konstruksi merupakan modul tersendiri masuk ke daftar hal yang perlu diperbaiki.

Piringan satelit memerlukan diameter 1600 mm karena ini adalah kebutuhan minimum untuk menutupi keseluruhan jendela dengan dimensi 1,2 X 1,2 meter untuk memastikan tidak kehilangan sinyal. Saya telah mencoba sebelumnya menerima sinyal satelit melalui jendela dan hasilnya cukup membesarkan hati. Bahkan penerimaan multi-feed dari sinyal Astra dan Hotbird juga mungkin.

Sekarang sya telah menemukan lokasi yang ‘sempurna’, saya perlu memikirkan dasar penopang untuk pemasangan dan pengaturan piringan di loteng. Kunjungan ke toko DIY setempat dengan segera menemukan bahwa bilah atap dan bingkai kayu merupakan bahan yang cocok – dalam arti tidak terlalu mahal.

Tahap selanjutnya saya harus berpikir tentang cara terbaik untuk membuat rangka. Menyediakan gambar panduan untuk menandai rangka adalah masalah terakhir saya, namun penggergajian dan pemotongan setiap rangka dengan tangan merupakan kemerosotan besar. Akhirnya, saya hanya sanggup 16 hingga 20 rangka. Setelah itu saya harus tidur – untuk dua malam! Tapi kemudian saya temukan sebuah solusi.

Prasyarat Umum

Tahap 1 adalah penentuan diameter reflektoryangbenar.Berdasarkansituasidankebutuhan saya, diameter 1600 mm adalah sangat memungkinkan, meskipun ini hanyalah ketentuan umum meskipun tidak selalu harus begitu. Saya akan selalu mengacu ke diameter tersebut dalam laporan ini.

Yang penting kedua adalah pengukuran relasi antara jarak fokus dengan diameter (relasi f/D, disebut juga f/D). Nilai ini harus ditentukan terlebih dahulu agar dapat melakukan perhitungan. Saya memilih f/D 0,7. Dalam bab 4 buku Paul Wade dinyatakan rentang nilai f/D antara 0.25 hingga 0.65, dan pelacakan di internet didapatkan bahwa IRTE menggunakan 0,35 manakala fiturantenaoffset pada nilai 0,65 dan 0,7. Antena yang ditampilkan di forum Vetrun mempunyai f/D 0,7.

Penentuan relasi f/D merupakan aspek utama. Jika nilai f/D meningkat pada level tertentu, konsekuensinya penyangga feed untuk memegang LNB harus lebih panjang. Dengan nilai f/D = 1 dan diameter piringan 1600 mm, maka jarak fokus akan menjadi 1600 mm dan penyangga feed akan perlu cukup panjang yang memerlukan konstruksi yang rumit dan kokoh. Jika nilai f/D berkurang, maka jarak fokus juga berkurang: dengan nilai f/D – misalnya – 0,5 jarak fokusnya hanya 80 cm dari reflektor.

Juga harus dikemukan bahwa pengaturan LNB secara longitudinal adalah paling bagus jika titik fokus reflektorbertepatandenganbukaan feed. Geometris feedhorn tentu saja juga mempengaruhi pemilihan relasi f/D yang optimum dan bergantung pada posisi titik fokus feedhorn harus dirancang secara berbeda – lihat di bawah ini untuk lebih rinci.

Sekarang pertanyaan fundamental telah dijawab dan diameter favorit telah ditetapkan, kita bisa beralih ke matematika. Hal ini berarti berlimpah rumus.

Prasyarat Matematika

Ilustrasi 1 menunjukkan sebuah parabola dalam lengkungan umum, dimana hanya areal diarsir yang menarik untuk perhitungan kita dan untuk itu saya hanya akan mengacu pada areal diarsir dalam seluruh penjelasan selanjutnya. Abscissa (x axis) merupakan diameter D reflektor,ordinat(yaxis)merupakan kedalaman T. Sinyal satelit berjalan menuju permukaan parabola paralel dengan ordinat dan kemudian dipantulkan dari permukaan parabola ke titik fokus f.

Berdasarkan ilustrasi 1 persamaan dasar untuk parabola adalah:

Setelah konversi ke y rumus ini adalah:

Ilustrasi 1

 

Nilai yang diperlukan untuk diameter piringan D dihitung dengan asumsi bahwa pertambahan positif maksimum dari x parabola sesuai dengan 50% diameter piringan (mengacu pada areal yang kita minati), sehingga dapat dinyatakan bahwa:

Sehingga sekarang kita telah memasukkan diameter piringan D ke dalam persamaan dan kita tiba pada rumus untuk menghitung kedalaman piringan T dengan menyisipkan persamaan 3 ke dalam persamaan 2.

Persamaan ini sekarang hanya mempunyai satu nilai yang tidak diketahui, namanya jarak titik fokus f. Nilai ini dapat dihitung melalui relasi antara titik fokus dan diameter (relasi f/D)

Yang mana – jika dikonversi ke f – memberikan variabel terakhir, yang disebut jarak titik fokus:

Relasi f/D harus ditentukan terlebih dahulu, sebab jika tidak jumlah nilai yang tidak diketahui akan terlalu tinggi dalam hubungannya ke angka persamaan.

Tahap terakhir sekarang adalah menyisipkan persamaan 6 ke dalam persamaan 4, yang memberikan kita sebuah rumus untuk menghitung kedalaman piringan tanpa nilai yang tidak diketahui lagi, selain D dan õ, keduanya harus ditentukan terlebih dahulu, maka:

Ini tentu saja tidak signifikanapakahkedalaman piringan T dihitung menggunakan persamaan 4 atau persamaan 7. Hal yang menarik dari persamaan 7 adalah bahwa diameter piringan tidak boleh dikuadratkan dan õ dapat dipilih secara bebas, dimana jarak titik fokus f harus dihitung dahulu.

Karena sekarang kita hanya memiliki nilai finaldan/ataumaksimum–manakalapembuatan cetakan juga memerlukan nilai pengantara – kita harus memecah akar persamaan 1:

Nilai y sekarang meningkat bertahap, misalnya 1 mm, mulai dari y = 1, hingga separuh diamater piringan, yaitu nilai x max, adalah hasil dan/atau nilai ini terlampaui. Tahapan lebih besar biasanya memberikan nilai yang sedikit, tetapi juga kurang halus.

Masing-masing set nilai untuk x dan y selanjutnya dapat ditandai di atas kertas karton yang cukup lebar dan memadai. Walaupun kedengarannya merupakan prosedur yang membosankan, hasilnya akan sangat akurat setelah seluruh titik di atas kertas karton terhubungkan. Sebuah cetakan kurva yang dapat ditekuk merupakan alat yang dipilih untuk pekerjaan ini. Potonglah kertas karton tersebut dengan sangat hati-hati sepanjang garis dan Anda akan mendapatkan sebuah lengkungan positif yang akan menjadi cetakan untuk memotong rangka. (lihat ilustrasi 2).

Bisa dicatat bahwa Anda bisa menghindari pekerjaan yang membosankan dan memerlukan waktu lama ini – setelah Anda memerlukan sejumlah rangka – jika Anda membuat cetakan yang dikurangi oleh faktor 2. Cetakan ini – dengan lengkungan negatif sekarang memegang peranan yang menentukan – bertindak sebagai dasar untuk gergaji ukir mekanis yang memerlukan Anda memotong hanya satu rangka negatif dengan tangan dan memroduksi seluruh rangka positif dalam jumlah besar. Saya harus tekankan pada tahap ini bahwa seluruh rangka positif haruslah serupa, yang berarti bahwa sembarang catat juga akan ditiru.

Jika bentuk negatif dibuat dengan penuh hati-hati dan ketekunan maka tidak diperlukan untuk memperbaiki setiap rangka positif.

Contoh:

Jika diameter piringan 1600 mm dipilih beserta relasi f/D õ = 0.7, jarak titik fokus f dapat dihitung menggunakan persamaan 6:

Kedalaman piringan T dihitung menggunakan persamaan 7:

Agar dapat membuat cetakan, diperlukan sebuah nilai pengantara. Untuk ini kita menggunakan persamaan 8 .

Dengan nilai yang sudah diketahui f = 1120 mm dan nilai y yang selalu bertambah 1 mm mengikuti, contohnya, kedalaman piringan T = 5 mm (T = y) adalah 150 mm dari titik pusat piringan, titik nol (lihat ilustrasi 1). Dengan kata lain, dalam jarak x 150 mm kedalaman piringan adalah 5 mm. Jika nilai kedalaman selalu bertambah 1 mm kita mendapatkan 143 pasang nilai sampai kita dapatkan radius maksimum 800 mm, yang berarti bahwa daftar tersebut akan menjadi rumit sekali. Di lain pihak, prosedur ini menciptakan tingkatan yang sangat halus yang menghasilkan geometris yang sangat akurat. Di bawah ini adalah daftar dengan nilai pengantara.

Tentu saja perhitungan juga dapat dilakukan dengan nilai x yang sudah diketahui, dalam hal ini persamaan 2 akan digunakan. Tetapi, ini akan membuat tahapan 1 mm menjadi tidak layak karena kita akan mendapatkan 800 pasang nilai (bahkan lebih untuk piringan yang berdiameter lebih besar) sehingga kita harus memilih jarak tahapan yang lain. Karena gradient parabola sangat rata mendekati titik nol dan hanya meningkat dengan cepat dan tajam jika kita meningkatkan jarak dari titik nol, tahapan jarak harus secara konsekuen diturunkan sedikit demi sedikit. Jarak sebenarnya, bagaimanapun, belum diketahui sebelumnya dan sulit untuk diterka, dan membuat prosedur ini sangat tidak layak.

Untuk cetakan yang dikemukakan di atas dengan skala 1:2 hanya beberapa pasang nilai yang diambil dari daftar (jika tidak jumlah pasangan nilai akan lebih tinggi dari yang diperlukan) dan nilai x dan y dibagi dengan 2. Harus dicatat: nilai dalam daftar telah dibulatkan.

Setelah nilai-nilai tersebut ditandai di atas kertas karton dan bentuk negatif bagian atas telah memotong bentuk positif di bagian bawah maka cetakan yang diperlukan untuk gergaji ukir mekanis telah selesai.

Pengaruh geometris feedhorn bergantung pada relasi f/D

Bergantung pada penambahan relasi f/D jarak antara titik fokus dan dasar reflektorberbeda dengan diameter piringan yang seragam. Ilustrasi 4 menunjukkan konsep ini pada antena parabola berdiameter 1600 mm. Untuk penjelasan berikut geometris parabola yang nyata tidak signifikan,sehinggapadailustrasi di bawah geometris berhubungan dengan lengkungan f/D = 0,7. Sebenarnya, gradient bagian luar parabola harus ditingkatkan karena penurunan nilai f/D. Untuk kegunaan observasi saya telah berkonsentrasi pada gelombang radio yang mencapai bagian sisi luar antena parabola. Seperti yang dapat dilihat dari ilustrasi yang rinci, gelombang tersebut mencapai feed dengan sudut yang terlebar yang dapat menyebabkan masalah sehubungan dengan pemanculan ke dalam feedhorn.

Di bawah ini adalah beberapa sketsa rinci untuk mengilustrasikan potongan sinyal dalam areal LNB berdasarkan f/D=0,25 hingga f/D=0,7 (ilustrasi 5).

Ilustrasi 4

Ilustrasi 5

Kami tidak akan mempertimbangkan bahwa gelombang radio datang dalam bentuk amplitudo, karena ini signifikanuntukobservasi umum kita. Juga harus dicatat bahwa saya telah mengukur hipotesis yang sangat ketat untuk feed cone tanpa bantuan dari sketsa model. Dapat dilihat dengan jelas bahwa geometrisnya mempengaruhi pemilihan jarak titik fokus dan/atau relasi f/D.

Dapat diobservasi bahwa f/D = 0,25 akan membawa sinyal langsung keluar lagi dari feedhorn, dan bahwa nilai 0,35 juga menyebabkan gelombang radio meninggalkan feed setelah dipantulkan dua kali. Dengan f/D = 0,5 sinyal bertemu feedhorn secara vertikal pada titik kedua pantulan dan kemudian meninggalkan feedhorn pada arah yang berlawanan yang berarti sinyal dibatalkan. Dapat dilihat, bahwa sinyal tidak akan dipantulkan jika cone feed memiliki sudut yang lebih halus. Terakhir, dengan f/D = 0.7 gelombang radio dapat dengan mudah melewati feedhorn menuju antena penerima di bagian belakang LNB.

Dari sini diketahui bahwa f/D yang rendah memerlukan cone dengan perbedaan diameter yang rendah agar memungkinkan penerimaan. Umumnya, LNB standard dirancang untuk piringan offset dengan f/D sekitar 0,7 sehingga cukup memungkinkan untuk menjadikannya sebagai acuan bagi piringan satelit buatan sendiri.

Juga diikuti bahwa memungkinkan untuk menggunakan LNB yang dirancang untuk f/D rendah pada piringan yang memiliki f/D tinggi, namun hal ini tidak berlaku sebaliknya. Tentu saja selalu mungkin untuk membuat masukan cone buatan sendiri – meskipun ini merupakan pekerjaan yang rumit.

Sebagai tambahan, diameter bukaan yang minimum dan panjang cone minimum diperlukan, bergantung pada frekuensi yang diterima, karena frekuensi rendah bersifat amplitudo yang lebih kuat.

 

 TOP

 

 

Sitemap Login Print Version