|
Nilai yang diperlukan untuk diameter piringan D
dihitung dengan asumsi bahwa pertambahan positif maksimum dari x
parabola sesuai dengan 50% diameter piringan (mengacu pada areal
yang kita minati), sehingga dapat dinyatakan bahwa:

Sehingga sekarang kita telah memasukkan diameter
piringan D ke dalam persamaan dan kita tiba pada rumus untuk
menghitung kedalaman piringan T dengan menyisipkan persamaan 3 ke
dalam persamaan 2.

Persamaan ini sekarang hanya mempunyai satu nilai
yang tidak diketahui, namanya jarak titik fokus f. Nilai ini dapat
dihitung melalui relasi antara titik fokus dan diameter (relasi f/D)

Yang mana – jika dikonversi ke f – memberikan
variabel terakhir, yang disebut jarak titik fokus:

Relasi f/D harus ditentukan terlebih dahulu,
sebab jika tidak jumlah nilai yang tidak diketahui akan terlalu
tinggi dalam hubungannya ke angka persamaan.
Tahap terakhir sekarang adalah menyisipkan
persamaan 6 ke dalam persamaan 4, yang memberikan kita sebuah rumus
untuk menghitung kedalaman piringan tanpa nilai yang tidak diketahui
lagi, selain D dan õ, keduanya harus ditentukan terlebih dahulu,
maka:

Ini tentu saja tidak signifikanapakahkedalaman
piringan T dihitung menggunakan persamaan 4 atau persamaan 7. Hal
yang menarik dari persamaan 7 adalah bahwa diameter piringan tidak
boleh dikuadratkan dan õ dapat dipilih secara bebas, dimana jarak
titik fokus f harus dihitung dahulu.
Karena sekarang kita hanya memiliki nilai
finaldan/ataumaksimum–manakalapembuatan cetakan juga memerlukan
nilai pengantara – kita harus memecah akar persamaan 1:

Nilai y sekarang meningkat bertahap, misalnya 1
mm, mulai dari y = 1, hingga separuh diamater piringan, yaitu nilai
x max, adalah hasil dan/atau nilai ini terlampaui. Tahapan lebih
besar biasanya memberikan nilai yang sedikit, tetapi juga kurang
halus.
Masing-masing set nilai untuk x dan y selanjutnya
dapat ditandai di atas kertas karton yang cukup lebar dan memadai.
Walaupun kedengarannya merupakan prosedur yang membosankan, hasilnya
akan sangat akurat setelah seluruh titik di atas kertas karton
terhubungkan. Sebuah cetakan kurva yang dapat ditekuk merupakan alat
yang dipilih untuk pekerjaan ini. Potonglah kertas karton tersebut
dengan sangat hati-hati sepanjang garis dan Anda akan mendapatkan
sebuah lengkungan positif yang akan menjadi cetakan untuk memotong
rangka. (lihat ilustrasi 2).
Bisa dicatat bahwa Anda bisa menghindari
pekerjaan yang membosankan dan memerlukan waktu lama ini – setelah
Anda memerlukan sejumlah rangka – jika Anda membuat cetakan yang
dikurangi oleh faktor 2. Cetakan ini – dengan lengkungan negatif
sekarang memegang peranan yang menentukan – bertindak sebagai dasar
untuk gergaji ukir mekanis yang memerlukan Anda memotong hanya satu
rangka negatif dengan tangan dan memroduksi seluruh rangka positif
dalam jumlah besar. Saya harus tekankan pada tahap ini bahwa seluruh
rangka positif haruslah serupa, yang berarti bahwa sembarang catat
juga akan ditiru.
Jika bentuk negatif dibuat dengan penuh hati-hati
dan ketekunan maka tidak diperlukan untuk memperbaiki setiap rangka
positif.
Contoh:
Jika diameter piringan 1600 mm dipilih beserta
relasi f/D õ = 0.7, jarak titik fokus f dapat dihitung menggunakan
persamaan 6:

Kedalaman piringan T dihitung menggunakan
persamaan 7:

Agar dapat membuat cetakan, diperlukan sebuah
nilai pengantara. Untuk ini kita menggunakan persamaan 8 .
Dengan nilai yang sudah diketahui f = 1120 mm dan
nilai y yang selalu bertambah 1 mm mengikuti, contohnya, kedalaman
piringan T = 5 mm (T = y) adalah 150 mm dari titik pusat piringan,
titik nol (lihat ilustrasi 1). Dengan kata lain, dalam jarak x 150
mm kedalaman piringan adalah 5 mm. Jika nilai kedalaman selalu
bertambah 1 mm kita mendapatkan 143 pasang nilai sampai kita
dapatkan radius maksimum 800 mm, yang berarti bahwa daftar tersebut
akan menjadi rumit sekali. Di lain pihak, prosedur ini menciptakan
tingkatan yang sangat halus yang menghasilkan geometris yang sangat
akurat. Di bawah ini adalah daftar dengan nilai pengantara.

Tentu saja perhitungan juga dapat dilakukan
dengan nilai x yang sudah diketahui, dalam hal ini persamaan 2 akan
digunakan. Tetapi, ini akan membuat tahapan 1 mm menjadi tidak layak
karena kita akan mendapatkan 800 pasang nilai (bahkan lebih untuk
piringan yang berdiameter lebih besar) sehingga kita harus memilih
jarak tahapan yang lain. Karena gradient parabola sangat rata
mendekati titik nol dan hanya meningkat dengan cepat dan tajam jika
kita meningkatkan jarak dari titik nol, tahapan jarak harus secara
konsekuen diturunkan sedikit demi sedikit. Jarak sebenarnya,
bagaimanapun, belum diketahui sebelumnya dan sulit untuk diterka,
dan membuat prosedur ini sangat tidak layak.
Untuk cetakan yang dikemukakan di atas dengan
skala 1:2 hanya beberapa pasang nilai yang diambil dari daftar (jika
tidak jumlah pasangan nilai akan lebih tinggi dari yang diperlukan)
dan nilai x dan y dibagi dengan 2. Harus dicatat: nilai dalam daftar
telah dibulatkan.

Setelah nilai-nilai tersebut ditandai di atas
kertas karton dan bentuk negatif bagian atas telah memotong bentuk
positif di bagian bawah maka cetakan yang diperlukan untuk gergaji
ukir mekanis telah selesai.
Pengaruh geometris feedhorn bergantung pada relasi f/D
Bergantung pada penambahan relasi f/D jarak antara titik fokus dan
dasar reflektorberbeda dengan diameter piringan yang seragam.
Ilustrasi 4 menunjukkan konsep ini pada antena parabola berdiameter
1600 mm. Untuk penjelasan berikut geometris parabola yang nyata
tidak signifikan,sehinggapadailustrasi di bawah geometris
berhubungan dengan lengkungan f/D = 0,7. Sebenarnya, gradient bagian
luar parabola harus ditingkatkan karena penurunan nilai f/D. Untuk
kegunaan observasi saya telah berkonsentrasi pada gelombang radio
yang mencapai bagian sisi luar antena parabola. Seperti yang dapat
dilihat dari ilustrasi yang rinci, gelombang tersebut mencapai feed
dengan sudut yang terlebar yang dapat menyebabkan masalah sehubungan
dengan pemanculan ke dalam feedhorn. Di bawah ini adalah beberapa
sketsa rinci untuk mengilustrasikan potongan sinyal dalam areal LNB
berdasarkan f/D=0,25 hingga f/D=0,7 (ilustrasi 5).
|

Ilustrasi 4 |

Ilustrasi 5 |
Kami tidak akan mempertimbangkan bahwa gelombang radio datang
dalam bentuk amplitudo, karena ini signifikanuntukobservasi umum
kita. Juga harus dicatat bahwa saya telah mengukur hipotesis yang
sangat ketat untuk feed cone tanpa bantuan dari sketsa model. Dapat
dilihat dengan jelas bahwa geometrisnya mempengaruhi pemilihan jarak
titik fokus dan/atau relasi f/D. Dapat diobservasi bahwa f/D =
0,25 akan membawa sinyal langsung keluar lagi dari feedhorn, dan
bahwa nilai 0,35 juga menyebabkan gelombang radio meninggalkan feed
setelah dipantulkan dua kali. Dengan f/D = 0,5 sinyal bertemu
feedhorn secara vertikal pada titik kedua pantulan dan kemudian
meninggalkan feedhorn pada arah yang berlawanan yang berarti sinyal
dibatalkan. Dapat dilihat, bahwa sinyal tidak akan dipantulkan jika
cone feed memiliki sudut yang lebih halus. Terakhir, dengan f/D =
0.7 gelombang radio dapat dengan mudah melewati feedhorn menuju
antena penerima di bagian belakang LNB. Dari sini diketahui bahwa
f/D yang rendah memerlukan cone dengan perbedaan diameter yang
rendah agar memungkinkan penerimaan. Umumnya, LNB standard dirancang
untuk piringan offset dengan f/D sekitar 0,7 sehingga cukup
memungkinkan untuk menjadikannya sebagai acuan bagi piringan satelit
buatan sendiri. Juga diikuti bahwa memungkinkan untuk menggunakan
LNB yang dirancang untuk f/D rendah pada piringan yang memiliki f/D
tinggi, namun hal ini tidak berlaku sebaliknya. Tentu saja selalu
mungkin untuk membuat masukan cone buatan sendiri – meskipun ini
merupakan pekerjaan yang rumit. Sebagai tambahan, diameter bukaan
yang minimum dan panjang cone minimum diperlukan, bergantung pada
frekuensi yang diterima, karena frekuensi rendah bersifat amplitudo
yang lebih kuat. |