|
Jika Anda memperhatikan daftar satelit, Anda
mungkin akan mendapatkan bahwa mayoritas transponder Ku-band
beroperasi dengan polarisasi linear (vertikal atau horizontal)
sedangkan mayoritas transponder C-band – dengan polarisasi sirkuler.
Apakah ada alasannya atau ada seseorang yang memulai cara ini dan
yang lainnya mengikuti?
Ya, ada. Namun sebelum kami coba untuk
menjelaskannya, terlebih dahulu akan disampaikan tentang polarisasi
secara umum. Gelombang Elektromagnetis merupakan kombinasi medan
elektris dan magnetis. Yang selalu muncul secara silmultan. Vektor
medan elektris tegak lurus terhadap vektor medan magnetis dan
keduanya tegak lurus terhadap arah perjalanan gelombang. Dalam
Gambar 1 gelombang elektromagnetis bergerak ke atas. |
 |
|
Gambar 1. Polarisasi Linear vs.
SirkulerPolarisasi |
Jika tidak terdapat perputaran fase antara vektor elektris dan vektor
magnetis, kita mendapat polarisasi linear. Kita menyebut polarisasi
vertikal atau horizontal bergantung pada orientasi vektor elektris
terhadap garis khatulistiwa.
Jika terdapat perputaran ±90°, kita mendapatkan polarisasi sirkuler.
Perputaran 90° (positif atau negatif) berarti bahwa ketika medan elektris
mencapai maksimum, maka medan magnetis sama dengan nol dan sebaliknya.
Dapat dilihat di Gambar 1. Secara teori, jika mempunya nilai lain untuk
perputaran fase (baik 0/180° maupun ±90°), kita mendapatkan polarisasi
eliptikal, namun ini tidak digunakan dalam transmisi satelit sehingga kita
tidak akan membahasnya di sini. Bergantung pada tanda sebelum 90°, kita
mendapatkan polarisasi sirkuler kanan (RHCP) atau polarisasi sirkuler kiri
(LHCP).
Sekarang, umumnya lebih mudah membuat LNBF yang berkinerja baik untuk
sinyal polarisasi linear daripada untuk sirkuler. Itulah sebabnya
mayoritas LNBF Ku-band menggunakan polarisasi linear.
Salah satu kekurangan yang diketahui pada polarisasi linear adalah
perlunya mengatur kemiringan (skew) LNBF bergantung pada lokasi
geografisAnda. Hal ini tidak diperlukan untuk sinyal polarisasi sirkuler –
Anda hanya memasang LNBF di titik fokus piringan dan selesai.
Kekurangan lain yang kurang diketahui tapi mungkin faktor yang lebih
penting adalah kepekaan sinyal polarisasi linear terhadap rotasi Farraday
yang disebabkan oleh medan magnetik bumi. Rotasi vektor EM tidak
berpengaruh pada sinyal polarisasi sirkuler. Pengaruh Faraday menurun
drastis terhadap frekuensi dan secara praktis diabaikan untuk Ku-band
tetapi tidak untuk C-band! Itulah sebabnya, penggunaan polarisasi linear
pada C-band lebih beresiko. Hal ini mungkin lebih penting ketika kita
perlu mencakup wilayah yang dekat dengan medan magnetik bumi.
Penyedia layanan menetapkan areal yang akan dicakupi. Jika areal
tersebut mempunyai kemungkinan besar untuk mengalami cuaca buruk (hujan,
salju) atau berlokasi di garis lintang yang tinggi (yang berarti jarak
yang jauh menembus awan), mereka akan memilih C-band. Seperti yang Anda
ketahui, C-band kurang peka terhadap kondisi cuaca buruk daripada Ku-band.
Karena C-band peka terhadap pengaruh Faraday, polarisasi sirkuler
merupakan pilihan yang lebih baik.
Namun jika lokasi terletak di tengah garis lintang dan ukuran piringan
merupakan perhatian utama (seperti kota-kota besar di Eropa), Ku-band akan
menjadi pilihan. Karena tidak perlu khawatir terhadap pengaruh Faraday di
sini, polarisasi linear akan membuat lebih mudah untuk menyediakan LNBF
yang berkinerja tinggi.
Sehingga, seperti yang dapat dilihat, terdapat alasan di balik pilihan
polarisasi ini atau itu. Hal ini selalu mengenai kepastian penerimaan yang
paling baik.
|